Disarikan secara bebas dari berbagai kitab tafsir al-Qur'an dengan sedikit tambahan
Alloh berfirman:
15.Adapun manusia apabila ِAlloh mengujinya lalu Dia memuliakan dan memberikan kesenangan kepadanya, maka manusia tersebut akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
16.Adapun bila Alloh mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".
Ringkasan Tafsir
Dalam ayat yang mulia ini Alloh mengungkap jatidiri mayoritas manusia, yang sering salah sangka terhadap Alloh dan pemberian-Nya, dikarenakan ketidaktahuan mereka akan hikmah kebijakan Zat Yang Maha Mengetahui. Mayoritas manusia ketika dilapangkan rizkinya dan dituangkan kepadanya berbagai curahan anugerah dan kenikmatan, baik berupa harta yang melimpah, kesehatan yang sempurna selama bertahun-tahun dan anak keturunan yang banyak, mereka menyangka bahwa dirinya ketika itu sedang dimuliakan Alloh, bahkan sebagiannya melupakan Alloh dan mengklaim bahwa semua itu merupakan hasil dari jerihpayahnya dalam membanting tulang dan memeras keringat, sebagaimana ungkapan kesombongan Qorun yang diabadikan Alloh dalam firman-Nya:
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Al-Qoshosh (28) : 78
Merekapun terjerembab dalam jurang ujub dan bangga diri serta lembah kekufuran terhadap nikmat pemberian Alloh yang pada akhirnya tersesat dalam selendang kesombongan yang panas, sebagaimana Alloh berfirman mengingatkan perkara ini dalam sebuah hadits Qudsi:
إن العز إزاري و الكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما عذبته
Sesungguhnya kemuliaan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, barangsiapa yang merebutnya, niscaya akan Ku-siksa. Shohih al-Jami' (1908)
Sebaliknya, ketika ditimpakan kepadanya kesempitan rizki, berkurangnya harta dan kekayaan serta menurunnya kesehatan, maka muncullah perasangka buruk terhadap Alloh, bahwa Dia sedang menjadikannya hina, sehingga bagi mereka kemuliaan hidup ini diukur dari kekayaan yang melimpah, sawah ladang nan luas, hewan ternak yang beranak pinak, anak keturunan yang banyak, serta tubuh yang sehat. Adapun tolok ukur hidup yang hina bagi mereka adalah kemiskinan, sedikitnya harta, kekayaan dan keturunan, serta menurunnya kesehatan. Hal ini senada dengan firman Alloh:
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
Al-Ma'aarij (70) : 19-20
Anggapan dan praduga ini diluruskan oleh Alloh seraya menyatakan:
Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Al-Anbiyaa' (21): 35
Sebagaimana juga penafsiran Ibnu Abbas tentang ayat diatas seraya menyatakan, bahwa maknanya adalah
لم أبتله بالغنى لكرامته علي ولم أبتله بالفقر لهوانه علي بل ذلك لمحض القضاء والقدر
Tidaklah Aku mengujinya dengan kekayaan karena kemuliaan dan haknya di sisi-Ku, dan tidaklah Aku mengujinya dengan kemiskinan karena kehinaannya di sisi-Ku. Akan tetapi hal itu murni karena ketentuan dan takdir-Ku.
Maka dari itu, hakekat kekayaan dan kemiskinan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penderitaan bukanlah tanda kemuliaan atau kehinaan seseorang di sisi Alloh, akan tetapi murni ketentuan dan kebijakan-Nya agar terbukti kapasitas, mutu dan kwalitas diri seseorang, apakah termasuk yang pandai bersyukur ketika memperoleh nikmat, atau malah menjadi seorang yang kufur dan menyombongkan diri akan nikmat tersebut? Dan apakah dia termasuk seorang yang bisa bersabar atas musibah dan penderitaan, atau malah murka dan mencaci maki Alloh atas petaka yang menimpanya?
Permisalan Manusia Dalam Menyikapi Kenikmatan
Perjalanan sejarahpun membuktikan dan memberikan perbandingan yang gamblang antara dua model manusia dalam menyikapi kenikmatan yang dianugerahkan kepadanya, sebagaimana Nabi Sulaiman yang dianugerahi Alloh kerajaan yang besar, kekuasaan yang luas, bahkan tidak hanya diberi kekuasaan atas manusia saja, akan tetapi juga diberikan kekuasaan atas bangsa jin, binatang bahkan angin. Akan tetapi semua itu tidak menjadikan beliau lupa daratan dan menyombongkan diri, bahkan tetap beriman dan taat kepada-Nya, sehingga kenikmatan tersebut akan dilanggengkan dan disempurnakan didalam surga-Nya kelak.
Kebalikannya adalah Fir'aun di zaman Nabi Musa yang juga dianugerahi Alloh kerajaan yang besar, kekuasaan yang luas dan pasukan yang kuat, ternyata mengantarkannya menjadi seorang yang lalai dan kufur, bahkan menyombongkan dan memproklamirkan dirinya menjadi Tuhan yang paling tinggi, akhirnya Alloh pun membinasakan dan menyiksanya di dunia, sebelum disempurnakan di akherat.
Permisalan Manusia Dalam Menyikapi Musibah
Dalam menyikapi musibah, diantara suri tauladan kita adalah Nabi Ayyub, beliau pernah mengenyam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, harta, sawah ladang demikian juga hewan ternak nan melimpah, anak-anak yang banyak, tapi kemudian Alloh uji beliau dengan diambilnya titipan-titipan kenikmatan itu satu persatu. Semua itu beliau hadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran, serta tetap taat kepada-Nya, sehingga setelah itu berangsur-angsur Alloh kembalikan lagi kepada beliau kenikmatan-kenikmatan tersebut.
Kebalikannya adalah kisah tiga orang dari bani Israil. Pertama adalah seorang yang sakit kulit pada sekujur tubuhnya. Kedua adalah seorang yang botak tidak ada rambut di kepalanya. Ketiga adalah seorang yang buta sama sekali tidak bisa melihat. Kemudian Alloh sembuhkan mereka semua dari segenap penderitaan tersebut dengan mengirim malaikat yang menjelma menjadi seorang manusia, bahkan diberikan kelebihan kenikmatan yang lain, berupa hewan ternak yang beranak pinak.
Seiring berlalunya waktu dan bergantinya zaman, Alloh pun mengutus kembali salah seorang malaikat-Nya mendatangi ketiga orang tadi dalam wujud yang sama ketika mereka masih sakit dan meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Ternyata orang yang dulunya sakit kulit pada sekujur tubuhnya dan orang yang dulunya botak tidak ada rambut di kepalanya menolak mentah-mentah permohonan malaikat tersebut, bahkan membanggakan apa yang mereka miliki sebagai hasil murni dari jerihpayah mereka, sehingga malaikatpun mengembalikan wujud mereka seperti semula dalam keadaan berpenyakit, dengan seizin Alloh.
Adapun orang yang dulunya buta, menyikapi permohonan malaikat dengan senang hati dan mempersilahkan untuk mengambil hartanya sesuai dengan kebutuhan sang pemohon, sehingga malaikat pun mengatakan:
أمسك مالك؛ فإنما ابتليتم، فقد رضي [الله] عنك، وسخط على صاحبيك
Ambillah hartamu, karena sebenarnya kalian telah diuji, sungguh Alloh telah meridhoimu, dan murka terhadap kedua temanmu.
HR. Muslim, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy serta dishohihkan al-Albani dalam ash-shohihah (3523)
Kesimpulan
Kekayaan dan kemiskinan, kegembiraan dan kesedihan, kesehatan dan penderitaan bukanlah standar seseorang itu mulia atau hina, karena semuanya adalah ujian pembuktian kwalitas pribadi seseorang. Apabila seorang yang kaya dan sehat mampu bersyukur atas nikmat tersebut, sehingga memanfaatkannya di jalan Alloh dan dalam rangka taat kepadaNya, bahkan lebih kongkritnya dipergunakan untuk menolong dan memperjuangkan agama Alloh, niscaya akan dibalas oleh-Nya dengan kemuliaan yang jauh lebih tinggi nan abadi, kelak di akherat di dalam surga-Nya.
Ketika seorang diuji dengan kemiskinan, kesengsaraan serta penyakit, dia bisa bersabar demi mengharap pahala dari-Nya, maka akan diganjar dengan ganjaran yang berlipatganda didalam surga-Nya, karena Rosululloh bersabda:
ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها إلا كتبت له بها درجة و محيت عنه بها خطيئة
Tiada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali pasti dicatat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. HR. Muslim
Sebaliknya, ketika seseorang yang sedang diuji dengan kekayaan dan kenikmatan malah menjauhkan dirinya dari Alloh dan durhaka kepada-Nya, maka hidupnya akan betul-betul terhina didunia, terlebih di akherat. Demikian juga seseorang yang sedang diuji dengan kemiskinanan dan kesengsaraan malah menjauhkan mencaci Alloh dan tidak mau bersabar atas ketentuanNya, maka hidupnya akan betul-betul terhina didunia, terlebih di akherat.
Maka dari itu, kemuliaan hidup yang hakiki ada dalam segala ketaatan kepada Alloh yang bakal mengantarkan sang hamba dalam samudra kenikmatan-Nya di dalam surga. Adapun kehinaan hidup yang hakiki ada dalam berbagai jenis kemaksiatan dan pembangkangan terhadap-Nya, sehingga bakal menyeret sang hamba dalam jurang penderitaan tiada tara di dalam nerakanya.
Semoga kita semua dibimbing Alloh agar menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bisa menaati-Nya, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, sehingga berhak menikmati kemuliaan hidup yang hakiki di sisi-Nya. Amiin ya Robbal 'aalamiin.
Kita pun berlindung kepada-Nya agar tidak dijadikan hamba-hamba-Nya yang senatiasa bermaksiat dalam berbagai keadaan, yang bakal menjerumuskan pelakunya dalam keninaan yang hakiki di sisi-Nya. Na'uudzubillah min Dzalik
Marooji':
-Tafsir Ath-Thobary
-Tafsir Al-Alusy
-Tafsir Al-Baghowi
-Tafsir Ibnu Katsir
-Tafsir As-Sa'diy
-Tafsir Ibnu 'Utsaimin
-Dll.




0 komentar:
Posting Komentar